Macro

Review about the dependency of the macro economic

Kemiskinan pun Menjulang

E-mail Print PDF

REVIEW, Jakarta (17/3)- Yang terburuk memang belum tiba. Namun perekonomian Indonesia sudah mulai menukik. Bisa jadi, kasus krisis moneter 1997 terulang lagi, dan kemiskinan kian merebak.

Ketika perekonomian Thailand dihantam krisis moneter pada 1997, para ekonom dan petinggi pemerintah gembar-gembor bahwa Indonesia akan tetap aman. Kata mereka, fundamental perekonomian nasional sangat kuat, sehingga tak mungkin dibobol krisis. Mereka percaya, rupiah tak akan ambruk karena permerintah setiap tahun melakukan depresiasi. Cadangan devisa juga dinilai mantap lantaran nilainya lebih besar ketimbang lima bulan kebutuhan impor.

Tapi kenyataan berkata sebaliknya. Krisis moneter Thailand ternyata merembet ke Indonesia. Tak tangung-tanggung pula, Indonesia kemudian justeru menjadi korban terparah krisis moneter yang melanda Asia Timur pada 1997. Rakyat pun mengamuk lantaran tak tahan dihajar oleh inflasi. Demikian dahsyatnya amuk berdarah mereka, sehinga berhasil memaksa Presien Suharto mengundurkan diri pada 1998.Runyamnya lagi, Indonesia ternyata paling gagap menghadapi krisis tersebut. Akibatnya, ketika negara-negara lain sudah pulih, perekonomian Indonesia tersendat-sendat berkepanjangan, dan bahkan berlangsung hingga sekarang.

Jadi wajar saja bila kini dunia usaha ngotot agar pemerintah segera mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah terulangnya krisis moneter 1997. Tanpa langkah-langkah yang berani dan tepat, menurut ketua Apindo Sofyan Wanandi, Indonesia bisa terperangkap dalam kebangkrutan dan PHK massal. Apalagi sekarang saja puluhan ribu buruh, terutama yang berstatus tenaga kontrak, telah kehilangan pekerjaan.

Para pebisnis sekarang ini tampaknya sudah tidak terpukau lagi pada pernyataan Gubernur Bank Indonesia Budiono bahwa perekonomian Indonesia tergolong paling tangguh di Asia, sehingga tetap sanggup mempertahan pertumbuhan secara positif. Apalagi Menko Perekonomian Sri Mulyani Senen (16/3) lalu mengakui, pemerintah tampaknya harus menurunkan lagi  target pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan alasan, krisis ekonomi global bisa menjadi lebih buruk dari dugaan semula.

Pertanyaan terbesar terkait dengan pernyataa Sri Mulyani adalah, benarkah dampak krisis ekonomi global sekarang ini lebih ringan ketimbang yang terjadi pada 1997, yang hanya menghantam kawasan Asia Timur? Pertanyaan ini terkait dengan kenyataan bahwa  pasar-pasar utama sekaligus investor terbesar di Indonesia - Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Eropa, dan Amerika Serikat - sudah mulai kalang-kabut dihantam krisis ekonomi global. Bisa jadi, menurut sejumlah pakar ekonomi, dampaknya ringan saja. Pasalnya, data-data BPS menunjukkan bahwa ekspor netto Indonesia hanya sekitar 10% dari PDB. Dengan kata lain, perekonomian Indonesia sangat tergantung pada pasar dalam negeri.

Masalahnya, pasar dalam negeri Indonesia sangat tergantung pada sektor informal, yang nyaris identik dengan kemiskinan. Maka, bila sektor ini dibebani lagi dengan para korban krisis ekonomi global, sosok Indonesia sebagai negara miskin dan terkucil bakal kian menjulang.

 

 

Ada Krisis di Balik Utang

E-mail Print PDF

Pergerakan saham

REVIEW, Jakarta (11/3) - Utang seolah telah menjadi way of life bagi siapa saja yang memerintah Indonesia. Utang pemerintah pun kian menjulang dari tahun ke tahun. Kini, di tengah cengkeraman krisis ekonomi global, pemerintah tampak kian agresif memburu utang baru. Bagaimana nanti jadinya?

Pemerintah saat ini seolah berada dalam dua pilihan tak sedap. Yakni terus menumpuk utang agar pertumbuhan ekonomi tetap positif, atau nekat mengandalkan modal sendiri dengan risiko resesi ekonomi. Namun, meski dikecam para penggiat anti utang, pemerintah lebih suka mengambil pilihan pertama.

Tak tanggung-tangung pula, pemerintah memilih pasar utang komersial meski bunganya jauh lebih tinggi ketimbang kredit lunak dan setengah lunak. Sekarang ini, bunga yang ditawarkan oleh pemerintah kepada para kreditor di pasar komersial global berkisar antara 10,5% sampai 12% per tahun. Ini berarti, secara kasar, sekitar satu setengah kali lipat lebih tinggi ketimbang bunga kredit lunak atau setengah lunak.

Last Updated ( Tuesday, 17 March 2009 15:34 ) Read more...
 

Indonesia News Headline

Review

Hiruk Pikuk Pembentukan Koalisi


Kelompok-kelompok politisi bertarung di sejumlah partai politik dalam menentukan mitra koalisi. Kendali koalisi bakal sulit dijalankan.  Rakernas pekan ini bisa jadi penentuan rujuk atau penajaman kon...

Gejolak Golkar dan Kegelisahan Kubu Cikeas

Selain memenangkan pemilu legislative, kubu Cikeas ingin dapat partner koalisi tangguh. Bila Golkar terpecah, siapapun presiden yang memerintah akan dapat tantangan besar. Imbas krisis ekonomi global ...

Papua Masih Terus Mencekam

Semenjak sebelum  hari pencontrengan 9 April tiba keamanan  di sejumlah kota-kota Papua sudah tergoyang. Potensi konflik masih besar menyusul ancaman para calon anggota legislatif asli Papua. Sayang p...

Menyelamatkan Negara atau Sekadar Berbagi Kekuasaan

Saat ketidakpuasan atas proses pemilu legislative terus bergulir, sejumlah elite politik bergerak untuk membentuk koalisi. Entah apa prioritasnya, menyelamatkan negara atau sekedar berbagi kekuasaaan

R...

Sudahlah Kita Jalani Saja

Bangsa Indonesia pada 9 April akan melaksanakan pemilihan umum. Inilah pemilu yang paling mengundang kontroversi. Terlalu banyak keributan timbul akibat berbagai kelemahan. Butuh hati nurani untuk men...

Pemilu susulan untuk mahasiswa Papua di Yogyakarta

REVIEW (9/4), Sebagian dari mahasiswa Papua di Yogyakarta yang mendatangi kantor KPUD DIY masih menunggu keputusan rapat terkait hak pilih mereka. Informasi terakhir menyebutkan akan dilaksanakannya p...

Pemilu Penuh Kejanggalan

Masa kampanye selesai sudah tanpa keributan.  Namun itu bukan jaminan Pemilu damai.  Rakyat mesti siap memilih meski banyak kejanggalan.

REVIEW, (6/4) Pekan lalu Ketua KPUD Kalimantan Barat, Muzamil, me...

More:

ReviewIndonesia.com Slide
 

Related Items