Home Economy-Business Macro Ada Krisis di Balik Utang

Ada Krisis di Balik Utang

E-mail Print PDF

Pergerakan saham

REVIEW, Jakarta (11/3) - Utang seolah telah menjadi way of life bagi siapa saja yang memerintah Indonesia. Utang pemerintah pun kian menjulang dari tahun ke tahun. Kini, di tengah cengkeraman krisis ekonomi global, pemerintah tampak kian agresif memburu utang baru. Bagaimana nanti jadinya?

Pemerintah saat ini seolah berada dalam dua pilihan tak sedap. Yakni terus menumpuk utang agar pertumbuhan ekonomi tetap positif, atau nekat mengandalkan modal sendiri dengan risiko resesi ekonomi. Namun, meski dikecam para penggiat anti utang, pemerintah lebih suka mengambil pilihan pertama.

Tak tanggung-tangung pula, pemerintah memilih pasar utang komersial meski bunganya jauh lebih tinggi ketimbang kredit lunak dan setengah lunak. Sekarang ini, bunga yang ditawarkan oleh pemerintah kepada para kreditor di pasar komersial global berkisar antara 10,5% sampai 12% per tahun. Ini berarti, secara kasar, sekitar satu setengah kali lipat lebih tinggi ketimbang bunga kredit lunak atau setengah lunak.

Namun, menurut Gubernur BI Budiono, bunga tersebut masih wajar dan berlaku umum bagi negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia. Dengan alasan, suku bunga di pasar komersial ditentukan oleh tinggi-redahnya risiko politik dan negara-negara pengutang. Dengan kata lain, makin tinggi tingkat risikonya, lebih mahal pula bunga yang harus dibayar. 

Di masa pra-SBY, untuk memperoleh kredit lunak dan setengah lunak, pemerintah menggantungkan diri pada negara-negara  kreditor dalam Consultative Group on Indonesia (CGI), dan dua lembaga multilateral – Bank Dunia dan Dana Moneter  Internasional (IMF) – untuk menutup defisit anggaran belanja sekaligus memperkuat cadangan devisa negara. Namun, dua tahun lalu, ditengah kecaman bertubi-tubi para politisi dan penggiat lembaga swadaya masyarakat, SBY membubarkan CGI dan memutus kontrak dengan IMF.

Ketika itu para politisi seperti Amin Rais, Drajad Wibowo, Kwik Kian Gie, dan Rizal Ramli menuding pemerintah telah menjadi antek para kapitalis global. Kata mereka, hanya lantaran nafsu berutang, pemerintah membiarkan IMF dan CGI menggiring Indonesia ke perangkap neoliberalisme. Neoliberalisme, menurut mereka, akhirnya akan menjadikan negara-negara berkembang sebagai budak ekonomi para kapitalis global.

Di tengah krisis ekonomi global saat ini, tudingan tersebut tampaknya perlu di review. Ini karena krisis tersebut dipicu oleh liberalisme ekonomi, dan kini justeru negara-negara maju yang menjadi korban terbesarnya. Lihat saja, kini mereka terperangkap dalam krisis ekonomi yang sangat parah, sehingga jutaan orang telah kehilangan perkerjaan, sementara perbankan dan industri mereka di ambang kebangkrutan massal. Sebaliknya, sejumlah negara sedang berkembang seperti Indonesia, Cina dan India masih dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi secara positif.

Namun pemerintah tampaknya sadar betul, bila kembali ke pangkuan IMF dan CGI, sama saja dengan bunuh diri politik. Maklum, pemerintah akan diserang habis-habisan sebagai antek asing, dan bisa membinasakan harapanya untuk memenangi Pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun ini.

Serangan ini terlalu sulit dihindari karena karena IMF dan CGI masih bertumpu pada konsep andalanya, yaitu liberalisasi ekonomi dan swastanisasi BUMN. Padahal dua hal ini dianggap sebagai barang haram, dan diidentikkan dengan penyerahan kedaulatan negara kepada kekuasaan asing oleh para penentangnya. Sedangkan bagi IMF dan CGI, kedua hal tersebut adalah kunci utama bagi negara sedang berkembang untuk memacu pertumbuhan ekonominya.

Jadi tak menghenrankan bila utang pemerintah terus menggunung. Apalagi sekarang ini perolehan devisa merosot lantaran ekspor melesu, sehingga pemerintah harus mencari utang tambahan senilai Rp 7,4 triliun untuk menutup defisit APBN 2009. Padahal, hanya untuk membayar bunga utang tok, tahun ini  pemerintah harus menghabiskan Rp 109,3 triliun, atau sekitar dua kali lipat anggaran untuk infrastruktur. Sekitar 70% anggaran tersebut untuk bunga utang dalam negeri, sisanya untuk bunga utang luar negeri.

Dalam APBN 2009, anggaran untuk dua departemen yang membidangi infrastruktur - Departemen Pekerjaan Umum, dan Departemen Perhubungan – masing-masing Rp 35,7 triliun, dan Rp 16,1 triliun. Sedangkan anggaran untuk sektor pertanian Rp 13,9 triliun.

Maka jelas sudah, meski telah menjadi beban sangat berat bagi APBN, namun mustahil dihindari karena pemerintah tak ingin Indonesia terperangkap dalam krisis ekonomi seperti tengah dialami dunia. Apalagi sekarang saja Bank Dunia telah memperingatkan, bila gagal memulihkan ekspor, Asia bisa dihantam lagi oleh krisis ekonomi seperti tahun 1998! Dan bila ini benar-benar terjadi, Indonesia bisa kian terbelit oleh utang, dan pasrah kepada para pemilik modal bernama CGI dan IMF.  

Last Updated ( Tuesday, 17 March 2009 15:34 )  

Indonesia News Headline

Review

Hiruk Pikuk Pembentukan Koalisi


Kelompok-kelompok politisi bertarung di sejumlah partai politik dalam menentukan mitra koalisi. Kendali koalisi bakal sulit dijalankan.  Rakernas pekan ini bisa jadi penentuan rujuk atau penajaman kon...

Gejolak Golkar dan Kegelisahan Kubu Cikeas

Selain memenangkan pemilu legislative, kubu Cikeas ingin dapat partner koalisi tangguh. Bila Golkar terpecah, siapapun presiden yang memerintah akan dapat tantangan besar. Imbas krisis ekonomi global ...

Papua Masih Terus Mencekam

Semenjak sebelum  hari pencontrengan 9 April tiba keamanan  di sejumlah kota-kota Papua sudah tergoyang. Potensi konflik masih besar menyusul ancaman para calon anggota legislatif asli Papua. Sayang p...

Menyelamatkan Negara atau Sekadar Berbagi Kekuasaan

Saat ketidakpuasan atas proses pemilu legislative terus bergulir, sejumlah elite politik bergerak untuk membentuk koalisi. Entah apa prioritasnya, menyelamatkan negara atau sekedar berbagi kekuasaaan

R...

Sudahlah Kita Jalani Saja

Bangsa Indonesia pada 9 April akan melaksanakan pemilihan umum. Inilah pemilu yang paling mengundang kontroversi. Terlalu banyak keributan timbul akibat berbagai kelemahan. Butuh hati nurani untuk men...

Pemilu susulan untuk mahasiswa Papua di Yogyakarta

REVIEW (9/4), Sebagian dari mahasiswa Papua di Yogyakarta yang mendatangi kantor KPUD DIY masih menunggu keputusan rapat terkait hak pilih mereka. Informasi terakhir menyebutkan akan dilaksanakannya p...

Pemilu Penuh Kejanggalan

Masa kampanye selesai sudah tanpa keributan.  Namun itu bukan jaminan Pemilu damai.  Rakyat mesti siap memilih meski banyak kejanggalan.

REVIEW, (6/4) Pekan lalu Ketua KPUD Kalimantan Barat, Muzamil, me...

More:

ReviewIndonesia.com Slide
 

Related Items