REVIEW, 14/5. Ibarat pertarungan tinju, upaya Konsorsium Donggi-Senoro dalam memenangkan pertarungan selalu kandas. Tiga kali sudah mengajukan penawaran harga dan sebanyak tiga kali pemerintah ”mengkanvaskan” konsorsium. Target produksi 2010 tampaknya sulit tercapai.
Kepala BP Migas R Priyono menolak pengajuan revisi harga jual gas dari lapangan Donggi-Senoro yang diajukan Konsorsium Donggi Senoro LNG (DSL) hal ini disampaikan di depan kantor Departemen ESDM di Jakarta, Selasa (12/5). Meskipun harga yang ditawarkan lebih tinggi US$ 0,3 dibandingkan dengan tawaran sebelumnya US$ 2,4 per MMBTU, menurut Priyono, masih terlalu rendah. BP Migas tetap menginginkan harga US$ 3,8 per MMBTU.
Di sisi lain, Juru Bicara Pertamina Anang Rizkani Noor seperti dilansir beberapa media mengatakan angka yang dilansir Kepala BP Migas kurang akurat. Dia beralasan, Konsorsium DSL tidak menyebut kenaikan angka US$ 0,3, tapi berdasarkan formula. Harga jual gas tersebut bukan flaat tapi mengikuti Japan Crude Cocktail (JCC). Dan harga yang disampaikan lebih baik dari yang disebutkan BP Migas.
Seperti diketahui DSL pada Februari lalu mengajukan formula harga dengan memakai dua slope. Untuk harga minyak Japan Crude Cocktail di bawah US$ 45 per barel, memakai slope 6,7 persen. Dan untuk harga minyak di atas US$ 45 per barel, memakai slope 12 persen.
Usulan inipun ditolak BP Migas. Sebab, ketika harga minyak US$ 45 per barel, harga gasnya sekitar US$ 2,4 per barel atau lebih rendah dari harga gas awal yang dipatok sebesar US$ 3,8. Selain itu, BP Migas bersikeras agar penetapan formula harga menggunakan patokan batas atas dan batas bawah (floor price dan ceiling price).
Jalan terjal DSL untuk segera mengolah gas Donggi-Senoro kiranya semakin tajam. Sederet permasalahan datang silih berganti. Lihat misalnya, soal penyelesaian kasus tender konsorsium operator hilir yang akan membangun kilang yaitu Mitsubishi Coorporation dengan PT LNG Energi Utama masih diproses di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Penyelesaian enam prasyarat yang diajukan Departemen Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) dan dua versi berbeda mengenai cadangan gas yang diperkirakan lebih kecil dari data DSL. Dugaan transfer pricing dan izin Amdal Pemprov Sulawesi Selatan.
Banyaknya permasalahan yang mengiringi DSL untuk segera mengolah Donggi-Senoro yang ditargetkan berproduksi tahun 2010 tampaknya pesimis dapat tercapai. Sekali lagi ibarat pertandingan tinju, hantaman demi hantaman yang diterima DSL kiranya dapat mengakhiri riwayat Donggi-Senoro.





