Home National Legal Lagi-Lagi Busyro versus Mafia

Lagi-Lagi Busyro versus Mafia

E-mail Print PDF

Mafia PeradilanREVIEW, Jakarta (10/3) - Komisi Yudisial (KY) ternyata belum gentar menghadapi ulah Mafia Peradilan. Padahal, gara-gara sikap keras kepalanya, beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) mencopot  wewenangnya untuk mengawasi hakim Mahkamah Agung (MA) dan MK. Kali iini KY mengusulkan pembentukan lembaga adhoc untuk menghabisi para pencoleng di dunia peradilan.

Kini Busyro Moqoddas rajin menjalin persahabatan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasalnya, dia ingin agar kerjasama antara KPK dan KY ditingkatkan. Dalam arti, nota kesepehaman yang pernah ditandatangani oleh KY, KPK, dan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) pada Februai 2007, ditindaklanjuti dengan langkah-langkah kongkret. Ini karena, menurut Busyro, praktek korupsi semakin sistemik, endemik dan dibangun dengan sinergitas yang tinggi.

Untuk itu Busyro menghendaki agar peran ketiga lembaga tersebut diperkuat. Dengan cara, mendorong Presiden dan DPR secara terus-menerus agar bersikap lebih tegas dan keras terhadap korupsi, dan dituangkan dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi yang saat ini masih dibahas di DPR. Selain itu, menurut Busyro, perlu dibentuk lembaga adhoc khusus untuk menghadapi Mafia Peradilan. Agar lembaga ini efektif, Busyro menyarankan, lembaga ini dioperaskan bersama KPK dan KY.

Lebih dari itu, Busyro juga menuntut agar lembaga-lembaga penegak hukum nantinya bersifat independen dan berada di luar wewenang presiden. Dengan alasan, politik uang sudah demikian mengakar di kancah politik Indonesia, sehingga setiap peluang bagi politisi busuk untuk ikut campur dalam dunia peradilan bisa ditutup rapat.

 

Namun, meski tampak cemerlang, belum ada jaminan bahwa ide Busyro bisa menjadi kenyataan. Sebab, para Mafia peradilan tak akan tinggal diam menyaksikan keran rezeki berlimpah-ruah yang telah membuat mereka kaya-raya ditutup. Maka bisa jadi, karena terus berkeras kepala, KY kantinya malah kehilangan lebih banyak wewenang.

 

Ingat, pada 23 Agustus 2006, berkat tuntutan para hakim agung,  MK mencabut werwenang KY mengawasi hakim MA dan MK. Padahal, ketika itu, KY sedang  dielukan oleh masyarakat sebagai ujung tombak dalam perang melawan Mafia Peradilan. Tapi toh MK tak peduli pada kenyataan itu, dan tetap mengebiri KY.     

 

Jadi tak mengherankan bila hasil survei Transparency International-Indonesia pada 2007 menempatkan pengadilan sebagai lembaga paling sarat suap-menyuap nomor 8. Lebih buruk lagi, survei KPK bahkan menempatkan Mahkamah Agung sebagai lembaga paling korup di Indonesia. Di masa depan,

jangan-jangan lembaga peradilan Indonesia menjadi institusi paling korup di dunia!

 

Last Updated ( Monday, 16 March 2009 22:08 )  

Indonesia News Headline

Review

Hiruk Pikuk Pembentukan Koalisi


Kelompok-kelompok politisi bertarung di sejumlah partai politik dalam menentukan mitra koalisi. Kendali koalisi bakal sulit dijalankan.  Rakernas pekan ini bisa jadi penentuan rujuk atau penajaman kon...

Gejolak Golkar dan Kegelisahan Kubu Cikeas

Selain memenangkan pemilu legislative, kubu Cikeas ingin dapat partner koalisi tangguh. Bila Golkar terpecah, siapapun presiden yang memerintah akan dapat tantangan besar. Imbas krisis ekonomi global ...

Papua Masih Terus Mencekam

Semenjak sebelum  hari pencontrengan 9 April tiba keamanan  di sejumlah kota-kota Papua sudah tergoyang. Potensi konflik masih besar menyusul ancaman para calon anggota legislatif asli Papua. Sayang p...

Menyelamatkan Negara atau Sekadar Berbagi Kekuasaan

Saat ketidakpuasan atas proses pemilu legislative terus bergulir, sejumlah elite politik bergerak untuk membentuk koalisi. Entah apa prioritasnya, menyelamatkan negara atau sekedar berbagi kekuasaaan

R...

Sudahlah Kita Jalani Saja

Bangsa Indonesia pada 9 April akan melaksanakan pemilihan umum. Inilah pemilu yang paling mengundang kontroversi. Terlalu banyak keributan timbul akibat berbagai kelemahan. Butuh hati nurani untuk men...

Pemilu susulan untuk mahasiswa Papua di Yogyakarta

REVIEW (9/4), Sebagian dari mahasiswa Papua di Yogyakarta yang mendatangi kantor KPUD DIY masih menunggu keputusan rapat terkait hak pilih mereka. Informasi terakhir menyebutkan akan dilaksanakannya p...

Pemilu Penuh Kejanggalan

Masa kampanye selesai sudah tanpa keributan.  Namun itu bukan jaminan Pemilu damai.  Rakyat mesti siap memilih meski banyak kejanggalan.

REVIEW, (6/4) Pekan lalu Ketua KPUD Kalimantan Barat, Muzamil, me...

More:

ReviewIndonesia.com Slide
 

Related Items