Review, 14/Juli. Cara berpikir sederhana masyarakat pemilih jadi ajang kampanye tim sukses siluman yang bekerja di bawah permukaan. Usai pemilu mereka pun menghilang entah ke mana. Bukan berarti tak ada kompensasi buat mereka.
Selang sehari setelah pemberian suara Pemilihan Presiden 8 Juli, sepertinya sudah tak ada celah lagi bagi Megawati dan Jusuf Kalla untuk memperpanjang Pemilihan Presiden menjadi dua putaran. Semua media beralih memberitakan kesuksesan kerja tim SBY-Boediono, sebaliknya tim kerja para pesaing cenderung menjadi loyo.
“Wah benar-benar dahsyat pengaruh pemberitaan, orang-orang yang saya hubungi sudah kehilangan semangat kerja,” tutur seorang kader PDIP yang bertugas mengumpulkan laporan-laporan daerah tentang pelaksanaan pencontrengan 8 Juli kemarin. Kelancaran tugas tim monitoring yang berkumpul di kantor DPP PDIP di Kawasan Lenteng Agung pun terganggu oleh lembeknya semangat kerja itu.
Tentu saja hal itu amat tidak menguntungkan. Bagaimanapun suara mesti dikawal.. Sebagaimana disinyalir oleh Ketua KPU Abdul Hafiz Anshari, ada kemungkinan intervensi rekapitulasi di tingkat kecamatan. Hal ini didasarkan pada pengalaman Pemilu Legislatif, 9 April, di mana terjadi godaan, intimidasi dan tekanan.
Usai penghitungan suara di TPS, masih banyak urusan yang mesti ditangani oleh para kader sampai dengan pimpinan partai menyatakan menerima hasil sepenuhnya. Pemberitaan hebat media massa, terutama televisi benar-benar meruntuhkan moral kubu yang tidak dimenangkan oleh perhitungan beberapa lembaga survei.
Sehari setelah pemberian suara, media massa sibuk menyanjung kubu yang dimenangkan sistem perhitungan cepat. Redaktur mengembangkan berita-berita yang sepantasnya baru diungkapkan setelah KPU secara resmi mengumumkan hasil akhir perhitungannya. Akibatknya suara kubu yang kalah tidak terdengar lagi.
Inilah sisi lain wajah demokrasi kita saat ini. Media telah memainkan peran amat penting dalam masyarakat kita yang sedang belajar untuk berdemokrasi. Secara psikologis publikasi hasil-hasil jajak pendapat menguntungkan pasangan SBY-Boediono. Sengaja atau tidak publikasi itu mempengaruhi persepsi orang atas calon-calon yang akan bertarung.
Pembangunan citra tokoh lewat media tentu bukan satu-satunya senjata para politisi bertarung dalam politik moderen. Di tingkat akar rumput mesti dibentuk tim pendukung yang siap bertarung berhadap-hadapan dengan tim serupa yang bekerja untuk para pesaingnya.
Dalam hal ini, tim pendukung atau tim siluman, melakukan berbagai hal agar massa pemilih berpaling kepada calon yang diusungnya. “Tim inilah yang banyak memberi kontribusi kepada kemenangan dalam Pemilu 2004,” ujar seseorang yang dekat dengan kubu SBY. Menurutnya mesin partai tidak terlalu diandalkan untuk meraih kemenangan, dan ini akan berulang dalam Pemilu 2009.
“Apa yang dilakukan oleh Partai Demokrat mirip dengan Pemilu di awal Orde Baru,” ujar sumber lain yakni seorang bekas petinggi Partai Golkar. Dia yakin ada sejumlah dasar-dasar pengembangan kepartaian yang sama antara Partai Golkar dan Partai Demokrat. Hal ini wajar, lanjutnya, karena banyak orang di Partai Demokrat tahu persis apa yang pernah dilakukan untuk memenangkan Golkar di masa lalu.
Sampai saat ini masyarakat luas belum paham apa yang telah dikerjakan oleh tim kerja yang, diakui atau tidak, amat menentukan proses demokrasi di Indonesia. Media massa yang independen melaporkan sejumlah kejanggalan seperti dana kampanye yang sulit dideteksi, kampanye hitam terhadap lawan-lawan politik serta sejumlah kecurangan lain.
Taktik strategi kampanye tentu saja urusan elite politik. Masyarakat sendiri lebih sukat berpikir tentang keamanan serta menantikan dampak positif peristiwa limatahunan itu pada perekonomian keluarganya. Kesederhaan cara berpikir itu setidaknya mengakibatkan, pertama, orang cenderung tidak mau memilih calon yang akan kalah atau dianggap akan kalah, karena khawatir suaranya akan sia-sia. Kedua, kampanye gencar pemilu presiden satu putaran ikut mendorong orang untuk cenderung memilih calon yang diunggulkan media massa. Lebih cepat rampung lebih baik karena urusan hidup sehari-hari sudah menanti
Usai pemilu tim sukses, yang resmi ataupun siluman, pun menghilang. Jejak tim resmi akan dapat kita kenali. Bila mereka sukses pasti mendapat kompensasi yang jelas. Sedang tim siluman akan menghilang tanpa meninggalkan jejak. Entah apa kompensasi yang mereka terima. Masyarakat tidak paham apa saja yang telah mereka kerjakan untuk mendukung jagonya.





