
Selain memenangkan pemilu legislative, kubu Cikeas ingin dapat partner koalisi tangguh. Bila Golkar terpecah, siapapun presiden yang memerintah akan dapat tantangan besar. Imbas krisis ekonomi global mesti ditahan dengan membentuk pemerintah yang kuat
REVIEW, 17/4. Usai menerima kedatangan Jusuf Kalla ke rumah pribadinya di Cikeas, Bogor, Soesilo Bambang Yudhoyono belum dapat tenang. Pasalnya tidak ada jaminan Kalla akan dapat mengatasi pergolakan yang tengah terjadi menyusul kegagalannya membawa Partai Golkar memenuhi amanat konggres 2004 yang menargetkan perolehan suara pemilu legislative sebesar 25%.
Berbagai faksi yang ada terang-terangan mempertanyakan kepemimpinan Kalla. Marzuki Darusman, misalnya, memberikan kecaman amat pedas. Konon Akbar Tandjung dikabarkan tengah menyiapkan tim persiapan Munaslub. Sedangkan Idrus Marcham juga sempat mengatakan Jusuf Kalla akan bersedia mundur setelah mendapat kepastian untuk maju dalam pemilihan presiden mendatang.
Kekhawatiran kubu Demokrat terbukti benar. Semenjak kemarin, Rabu (16/4), rombongan kader Golkar dari berbagai daerah memaksa diadakan rapat konsultasi. Mereka mendengar kabar bahwa proses pemilihan calon presiden dan wakil presiden yang telah ditetapkan sebelumnya akan dibatalkan. Rumor itu menyebutkan bahwa Kalla pasti akan maju lagi sebagai wakil presiden bersama partnernya Soesilo Bambang Yudhoyono.
Itu berarti tertutuplah kemungkinan kader Golkar lain untuk maju. Para kader dari Kalimantan Barat, Jawa Barat, Papua, Aceh, Jawa Timur, NTT juga Sulawesi Utara meminta proses seleksi diteruskan saja.
Sesungguhnya, terkait dengan proses pemilu yang panjang dan melelahkan, Golkar seolah gadis cantik yang menentukan sebuah perhelatan. Sekalipun kalah dalam pertarungan pemilu legislative, kehadirannya tetap penting di mata kaum lelaki yang menjadi pemenang.
Di mata Soesilo Bambang Yudhoyono, misalnya, keutuhan Golkar merupakan hal penting yang akan banyak menentukan perjalanan lima tahun mendatang. Bila Partai Demokrat berkoalisi dengan Partai Golkar yang tidak utuh, persoalannya bisa amat berbeda.
Perlu diingat kejadian saat 2004. Jusuf Kalla mundur dari konvensi yang tengah berlangsung, yang kemudian dimenangkan oleh Wiranto. Dia kemudian pergi menemui Soesilo Bambang Yudhoyono atas peran Fahmi Idris. Di luar perkiraan banyak orang, pasangan itu kemudian memenangkan pemilihan presiden langsung yang pertama di Indonesia itu.
Pasangan itu menang karena perpecahan di tubuh Partai Golkar. Posisi Partai Demokrat saat ini memang berbeda. Besar kemungkinan akan jadi partai pengumpul suara terbanyak. Sehingga kubu Yudhoyono ada dalam posisi lebih menentukan. Kehadirannya Golkar sebagai mitra koalisi penting untuk menjaga posisi pemerintah di parlemen, terlebih-lebih kinerja para anggota DPR dari Partai Demokrat tidak terlalu istimewa. Sebaliknya Golkar terkesan amat terampil mengagendakan isu.
“Dulu kami kesulitan setidaknya soal dana, sekarang beda setelah 5 tahun memerintah kami bisa dekat dengan banyak pengusaha,” ujar sebuah sumber yang amat dekat dengan kalangan istana itu.
Kemudian, lanjut dia, proses politik yang terjadi dalam pekan-pekan ini teramat penting. Target yang diinginkan kubu ini adalah membentuk pemerintah yang kuat dengan dukungan parlemen yang tangguh. “Ini amat dibutuhkan mengingat kondisi ekonomi saat ini yang sudah pasti membuat Indonesia akan turun,” tambahnya.
Bila pemerintah kuat, keterpurukan itu akan bisa tertahan dan kebangkitan bisa lebih cepat dilakukan. Sebaliknya tentu tak terbayangkan bila dalam lima tahun ke depan politik terus bergejolak dan pemerintahan lemah.





