REVIEW, 19/5. Keyakinan kubu SBY akan menang dalam satu putaran pemilihan presiden mendapat tantangan berat akibat pembelotan sejumlah kader partai-partai anggota koalisi. Bila tak taktis menghadapinya pergerakan pembelotan yang sedang terjadi itu akan dapat berubah jadi malapetaka. Semua berdalih Boediono sebagai dasar pembelotan.
Gegap gempita deklasi di Bandung akhir pekan lalu pada sisi berarti kekecewaan pada kubu yang tak terpilih. Bagaimana tidak karena para jago yang berniat telah berbulan-bulan, bahkan mungkin lebih, melakukan berbagai upaya agar dapat mewujudkan impiannya menjadi RI-2, terpaksa harus “legowo” atau jadi pecundang. Bukankah biaya yang telah dikeluarkan tak main-main, demikian pula dengan segala kepentingan yang ikut memotivasi upaya gigih mereka.
Tidak terdengar bagaimana kubu SBY mengelola mereka yang mesti dikalahkan agar tidak pindah ke lain hati. Ini penting dan bila itu tidak dilakukan terciptalah dengan sendirinya lubang yang akan dengan mudah diterobos lawan. Ke
Kepada sejumlah wartawn, Lukman Hakim Syaiffudin dari PPP menegaskan secara terbuka langkah pribadinya itu berbarengan dengan sejumlah politisi berlatar belakang NU lain baik di PPP maupun PAN. Gerakan ini akan terus berkelanjutan dalam hari-hari mendatang. Inilah buah pertemuan antara Jusuf Kalla ke kubu NU dan sejumlah kyai berpengaruh termasuk Ketua PB NU Hasyim Muzadi.
Setali tiga uang, ekonom PAN Drajat Wibowo juga mengakui ikut mendukung tim JK-Wiranto. Aneh bukankah ketua tim sukses SBY Berbudi adalah Hatta Radjasa rekan Drajat di PAN yang Rabu (20/Mei) mengumumkan bahwa ada 23 partai mendukung mereka, termasuk PAN. Itulah bukti ada perpecahan serius di koalisi.
Dalam kesempatan itu Hatta mengklarifikasikan bahwa polemik atau konflik antara Soetrisno Bachir dan Amien Rais sudah diselesaikan. Entah benar atau tidak karena posisinya Hatta Radjasa memang harus membuat pernyataan seperti itu. Setidaknya ini dia perlukan agar dapat bekerja dengan baik membantu SBY memenangkan kembali jabatan presiden masa kerja 2009-2014 mendatang.
Ruhut Sitompul dari Partai Demokrat beberapa saat sebelumnya mengakui adanya tantangan itu. Menurutnya itu persoalan serius yang menyita perhatian mereka untuk itulah Partai Demokrat merasa perlu meminta ketegasan partai-partai anggota koalisi agar mengambil sikap pada kader yang mencoba menyempal. Bila permintaan itu tak dilaksanakan resikonya adalah pengurangan jatah kursi jabatan-jabatan eksekutif yang selama ini dibicarakan sebagai landasan pembentukan koalisi itu.
Konon dibalik permintaan balik itu sebuah survei yang tidak dipubliksikan menemukan penolakan dari para pemilih Partai Demokrat dalam pemilu legislative lalu. “Setidaknya ada 40% pemilih Partai Demokrat menolak pasangan SBY – Boediono dan mereka mungkin memilih pasangan presiden lain,” tutur sumber itu.
Ucapan itu disampaikan karena sebelumnya santer terdengar kabar bahwa bersama rekan-rekannya dari PAN Catur Sapto Edi, Alvin Lie serta Paskalis Akbar berada di balik tim sukses JK-Wiranto yang dipimpin Fahmi Idris. Mereka adalah kader yang memiliki basis massa di tingkat akar rumput dengan kemampuan untuk mempengaruhi keputusan pendukung partai menentukan pilihannya.
Gejala pembelotan juga terjadi di partai-partai pendukung lain seperti PKS dan PPP. Rama Pratama yang gagal untuk kembali duduk sebagai anggota DPR dari PKS dikabarkan juga akan memberikan dukungan kepada pasangan JK-Wiranto. Dia akan membantu pasangan itu bersama sejumlah anggota PAN lain seperti Abu Bakar Al Habsyi serta Andi Rakhmad.
***
Bila Jk dan Wiranto bisa memanfaatkan perkembangan itu tentu akan baik buat mereka. Apalagi bila mereka berhasil merangkul kembali kubu Akbar Tandjung yang sempat berjuang untuk bisa meraih kesempatan mendampingi SBY tapi gagal. Akbar yang lama malang melintang sebagai politisi Golkar tentu masih punya pengaruh kuat di akar rumput. Justru akan berbahaya bagi JK bila membangun kembali hubungan dengannya tidak diutamakan.
Namun itulah dinamika politik yang terjadi. Masyarakat hanya bisa mengharapkan diantara ketiga pasangan itu aka ada kesadaran bahwa yang paling penting adalah memberikan yang terbaik kepada bangsa yang sedang susah ini. Tidak sebatas pada slogan kampanye namun terwujud di hari-hari mendatang dalam kehidupan nyata.





