Home National Politics Jangan Abaikan Gejolak di Tubuh Golkar

Jangan Abaikan Gejolak di Tubuh Golkar

E-mail Print PDF
REVIEW, 22/5. Perbedaan kepentingan antar kelompok politisi Golkar masih terus berlangsung. Saat sang ketua umum sibuk menyiapkan diri bertarung dalam pemilihan presiden, sejumlah petinggi berkumpul merencanakan  percepatan konggres. Mungkinkah Golkar berkoalisi dengan Partai Demokrat usai  

Harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, edisi Rabu, 20/5, memberitakan kecaman Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla terhadap para kader yang menggelar pertemuan tak resmi di rumah pribadi pengusaha Aburizal Bakrie di kawasan Menteng Jakarta Pusat. Pertemuan itu digambarkan tidak etis karena berupaya menebar benih-benih pemberontakan yang digalang sekelompok pemimpin tertinggi partai.
    Untuk itulah, lewat Judi Krisnandi juru bicara kampanye, Jusuf Kalla menyatakan akan melawan upaya-upaya untuk mempercepat penyelenggaraan kongres partai. Saat ini konsentrasi utamanya adalah menghalang usaha-usaha untuk dapat memenangkan pemilihan presiden 8 Juli mendatang.
    Apa sesungguhnya yang terjadi di tubuh Partai Golkar?
Sebuah sumber yang bisa dipercaya menuturkan kepada REVIEW bahwa pertemuan yang digalang oleh pengusaha Aburizal Bakrie itu dihadiri sejumlah elite partai. Diantaranya Akbar Tandjung, Fadel Muhammad, Priyo Budi Santoso, Agung Laksono dan tentu saja sang tuan rumah. Persoalan utama yang melatarbelakanginya adalah kekecewaan beberapa pihak dipartai atas penentuan DPP Golkar yang memasangkan Jusuf Kalla dan Wiranto sebagai capres dan cawapres. Hal itu dianggap tidak sesuai dengan prosedur yang telah disepakati partai sebelumnya.
    Sumber itu memastikan masing-masing kader yang hadir sesungguhnya punya agenda tersendiri. Adapun persoalan keabsahan keputusan penentuan Jusuf Kalla sebagai calon presiden hanya sekadar alasan yang dicari-cari. “Faksi-faksi itu datang untuk memperjuangkan ambisi mereka masing-masing,” begitu kira-kira sumber tersebut menggambarkan.
    Kalau kita teliti lebih jauh jelas bahwa tuan rumah adalah pengusaha yang punya banyak persoalan selama lima tahun terakhir. Bila tidak ada payung politik yang bisa dipakai untuk berlindung dalam lima tahun ke depan berarti akan timbul ancaman besar. Bencana lumpur Lapindo yang sudah berlangsung tiga tahun pasti merupakan soal utama yang dikhawatirkan. “Ada masalah lain yang juga mesti diselesaikan yakni soal saham di Bumi Resources, proyek pipanisasi bawah laut yang menghubungkan Jawa dan Kalimantan, juga soal pengambilalihan KPC,” tambah sumber tadi.
    Untuk pengamanan kepentingan bisnisnya, Aburizal Bakrie menekankan pentingnya Golkar untuk menguasai kembali kursi Ketua DPR RI. Namun kondisi sekarang berbeda sekali dengan tahun 2004 karena saat ini Golkar tidak lagi pengumpul suara terbanyak. Selain itu Agung Laksono sendiri gagal kembali masuk sebagai legislator karena suara yang dikumpulkannya dalam pemilu 9 April tak mencukupi. Padahal agenda bisnis keluarga Bakrie dapat disisipkan dengan mudah bila pimpinan DPR dikuasai Golkar.
    Kelompok lain yang hadir dalam pertemuan itu adalah Akbar Tandjung. Sosok yang pernah memimpin Golkar ini masih mempunyai pengaruh yang besar. Setelah gagal tampil sebagai calon dalam Pilpres mendatang, perhatiaan adalah bagaimana merebut kembali posisi ketua umum. Kesempatan akan besar bila konggres dapat dipercepat, karena konsentrasi Jusuf Kalla terpusat pada menyusun kampanye dan strategi menuju Pilpres.
    Kekuatan kelompok Akbar Tandjung bertumpu pada dukungan di basis kota dan kabupaten. Di tingkat kepengurusan propinsi dan dewan pimpinan pusat (DPP) memang lemah. Inilah mengapa kelompok Jusuf Kalla dapat memangkan pertarungan untuk menentukan proses penentuan wakil partai dalam pemilihan presiden mendatang. Walau sudah tak memimpin partai lagi,  Akbar tetaplah sosok politisi tangguh, dalam Rapimnassus di Hotel Borobudur lalu, dia bisa menggalang kader-kader tingkat kota dan kabupaten mengadakan pertemuan sendiri di Hotel Arya Duta. Hal itu kembali diulanginya bersama Muladi dan Agung Laksono saat pasangan JK-Wiranto mendeklarasikan diri Monumen Proklamasi. Kabarnya ada setidaknya 120 pengurus kota berkumpul pada saat bersamaan untuk mempertanyakan keabsahan keputusan pencalonan JK.  
    Kekuatan itu menjadi modalnya untuk menantang kelompok Jusuf Kalla. Pilihannya mendekati SBY tentu menjadi penting untuk diperhatikan karena akan secara langsung menentukan stabilitas politik nasional kurun waktu 2009-2014 mendatang. Bila dia menguasai kursi pimpinan Golkar dengan memenangkan konggres besar kemungkinan akan dapat menguasai pula kursi ketua DPR RI. Untuk itulah bila konggres bisa dipercepat dari rencana semula, kelompok Akbar akan punya peluang lebih besar.
    Dalam Pertemuan Menteng itu juga mulai muncul nama-nama calon ketua umum Golkar. Umumnya adalah kader muda, diantaranya adalah  Priyo Budi Santoso, Yuddy Krisnandi, Happy Bone Zulkarnaen dan Sandiago Uno. Nama terakhir yang disebut itu adalah pengusaha muda yang kurang dikenal kiprahnya di dunia  politisi. Kemunculannya dalam bursa berkat dorongan dari Aburizal Bakrie. Kesamaannya sebagai pengusaha diharapkan akan menjadi kader baru untuk memperjuangkan kepentingan bisnis jaringan bisnis Bakrie yang telah menggurita.
 

Indonesia News Headline

Review

Hiruk Pikuk Pembentukan Koalisi


Kelompok-kelompok politisi bertarung di sejumlah partai politik dalam menentukan mitra koalisi. Kendali koalisi bakal sulit dijalankan.  Rakernas pekan ini bisa jadi penentuan rujuk atau penajaman kon...

Gejolak Golkar dan Kegelisahan Kubu Cikeas

Selain memenangkan pemilu legislative, kubu Cikeas ingin dapat partner koalisi tangguh. Bila Golkar terpecah, siapapun presiden yang memerintah akan dapat tantangan besar. Imbas krisis ekonomi global ...

Papua Masih Terus Mencekam

Semenjak sebelum  hari pencontrengan 9 April tiba keamanan  di sejumlah kota-kota Papua sudah tergoyang. Potensi konflik masih besar menyusul ancaman para calon anggota legislatif asli Papua. Sayang p...

Menyelamatkan Negara atau Sekadar Berbagi Kekuasaan

Saat ketidakpuasan atas proses pemilu legislative terus bergulir, sejumlah elite politik bergerak untuk membentuk koalisi. Entah apa prioritasnya, menyelamatkan negara atau sekedar berbagi kekuasaaan

R...

Sudahlah Kita Jalani Saja

Bangsa Indonesia pada 9 April akan melaksanakan pemilihan umum. Inilah pemilu yang paling mengundang kontroversi. Terlalu banyak keributan timbul akibat berbagai kelemahan. Butuh hati nurani untuk men...

Pemilu susulan untuk mahasiswa Papua di Yogyakarta

REVIEW (9/4), Sebagian dari mahasiswa Papua di Yogyakarta yang mendatangi kantor KPUD DIY masih menunggu keputusan rapat terkait hak pilih mereka. Informasi terakhir menyebutkan akan dilaksanakannya p...

Pemilu Penuh Kejanggalan

Masa kampanye selesai sudah tanpa keributan.  Namun itu bukan jaminan Pemilu damai.  Rakyat mesti siap memilih meski banyak kejanggalan.

REVIEW, (6/4) Pekan lalu Ketua KPUD Kalimantan Barat, Muzamil, me...

More:

ReviewIndonesia.com Slide
 

Related Items