Setelah SBY dan JK terpecah dan maju sendiri sebagai capres, Ical harus mencari payung politik sendiri agar kepentingan dan kasus bisnisnya terlindung. Pasti tak mudah, pememang pilpres belum tentu akomodatif kepadanya.
Dalam sebulan terakhir semburan gas baru muncul di beberapa titik desa-desa sekitar desa Karang Bendo, Kecamatan Porong Sidoardjo. Kini jumlahnya telah mencapai 120 titik. Semakin hari semburan baru semakin jauh dari titik awal semburan yakni telah mencapai hampir 1 Km jauhnya. Kemunculan semburan baru itu disebabkan pergerakan gas terhambat oleh karena langkah pembuangan lumpur hanya lewat penampungan di kolam tidak lagi dialirkan lewat sungai Porong.
Keadaan ini menandakan bahwa penanganan bencana lumpur Lapindo masih jauh dari selesai padahal luapan itu sudah terjadi semenjak 3 tahun lalu. Selama kurun waktu itu kasus ini lebih menjadi isu politik yang berkepanjangan ketimbang persoalan bencana yang mesti diselesaikan.
Menjelang Pilpres, Kepolisian Jawa Timur menyatakan bahwa bencana itu terjadi karena kesalahan manusia bukan bencana alam. Tentu masyarakat luas, termasuk ribuan korban, kini juga tengah menanti apa yang terjadi. Muncul berbagai pertanyaan dalam benak mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya ? Akankah sangsi dikenakan kepada pemilik perusahaan yang menyebabkan timbulnya bencana?
Kini tentu saja persoalannya berbeda. “SBY tentu saja akan bersikap tegas dan tak sungkan-sungkan memenjarakannya apabila menang dalam pemilihan mendatang,” ujar salah seorang penasehat SBY kepada Review Indonesia. Setelah memerintah selama lima tahu, menurutnya, SBY tidak lagi mengalami ketergantungan keuangan seperti dulu. “Kini dia dapat memerintahkan pengusaha untuk mengumpulkan dana membiayai kampanye,” tambah dia.
Lantas bagaimana dengan kubu JK-Wiranto. Jawaban mereka setali tiga uang. “Ical dianggap tidak memberikan kontribusi apapun terhadap pasangan JK-Wiranto,” ujar Pumpida Hidayatullah salah seorang anggota tim sukses JK. Untuk itulah tak ada gunanya bagi pasangan ini untuk memnberikan perlindungan politik apabila nanti berhasil memenangkan Pilpres. Selain tak memberikan kontribusi dan dukungan, kesalahan besar Ical adalah memprakarsai kekuatan untuk mempercepat penggusuran JK dari kursi ketua umum partai.
Sebenarnya secara resmi nama Aburizal Bakrie termasuk salah seorang anggota tim sukses pasangan JK-Wiranto. Dalam daftar resmi yang diserahkan pada saat pendaftaran ke KPU nama Ical tercantum bersama 800 orang lain. Namun hal itu berubah karena kemudian muncul pemberitaan tentang pertemuan di rumah Ical yang dihadiri sejumlah politisi Golkar untuk mempercepat penggantian Kalla sebagai ketua umum.
Tentu saja Kalla meradang mendengarnya. Juru bicara tim Juddy Krisnandi menegaskan kalau nama Ical kini tinggal formalitas saja. Semua sudah berubah. Kelompok yang dimotori Ical kabarnya terus bertemu setidaknya menyiapkan diri menghadapi hasil putaran pertama Pilpres. Nampaknya ia mengharap pada pasangan SBY-Boediono. Hubungannya dengan JK nampak sulit diperbaiki, sementara komunikasinya dengan pasangan Mega-Prabowo belum diketahui. Mampukah Ical merangkul pemenang Pilpres mendatang dan meraih payung politik baru? Kita nantikan saja.





